Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Oktober 2014

Japan Trip - D6 - Kyoto : (Akhirnya ... ) Makan Enak


Hari ini hari pertama saya explore Kyoto.
Kota yang dulu cuma saya baca dari buku, dan tidak pernah saya bayangkan akan saya datangi.
- beli tiket impulsif itu emang ga ada matinya teman :) -
Bayangan saya, Kyoto itu seperti jogja nya Indonesia.

Hanari Guest House Kyoto sangat bersih dan nyaman.
Pagi ini saya bertemu dengan tamu - tamu lain yang juga sedang bersiap - siap.
Semua yang saya temui tampak seperti orang lokal yang sedang traveling.
atau at least semua asia, bisa saja toh mereka kebangsaan cina, hongkong, atau lainnya.
salah satu teman dormitory dalam kamar berempat yang saya tempati itu adalah perempuan muda kebangsaan cina yang berlogat inggris.
Dalam basa - basi sederhana saya lalu mupeng sama logat nya.
Harry Potter banget deh mbak....

Pagi pertama, saya harus adaptasi dengan tinggal ala dormitory.
Terasa sekali perbedaanya antara tinggal di dormitory dengan kondisi saya sebelumnya di Osaka yang booking 1 kamar untuk sendiri.
Musti bawa barang seabrek untuk mandi - kamar mandi ada di lantai 1 -
Musti antri kamar mandi, wastafel, kompor, dlsb :)
Preparationnya jd lebih lama di banding kalau sewa 1 kamar.
Plus ga bisa nyuci karena pasti ribet setengah mati.
- ada uang ada barang ya kakaaaaaak -

Dengan prediksi yang sama seperti hari sebelumnya - yaitu akan crowded karena hari itu adalah hari minggu -  saya putuskan untuk berangkat pagi.
Jadwal pagi itu adalah Fushimi Inari Shrine, sebuah kuil yang terkenal dengan gate orange berbaris rapi.
Karena lokasinya lebih mudah di capai dari stasiun, maka pagi itu saya putuskan untuk pergi ke stasiun dan ke sana naik kereta.
Kembali berbekal peta dari guest house, saya menuju ke stasiun JR Nijo.
Jalan perumahan di sekitar guest house masih sepi pagi itu.
Matahari cerah dan suhu yang bersahabat - baca : tidak terlalu dingin - membuat hati saya senang dan perjalanan menuju ke stasiun tidak terasa.
Tidak terasa sampai saya mulai ribet baca peta dan bolak - balik nyebrang ga jelas.
Stasiun JR Nijo ini klo dilihat di peta tampak dekat dan mudah, karena malam sebelumnya pun saya datang dari stasiun Nijojo-mae yang "hanya" selurusan dengan JR Nijo.
Tapi jalannya ternyata lumayan, dan beberapa kali nyebrang jalan mulai bikin saya ribet liat peta :D
Untungnya masih bisa bertanya, ketemu mbak - mbak japanese yang juga ternyata mau ke stasiun, plus di tambah bisa ngobrol.
Saya lupa apakah hari itu dari stasiun JR Nijo saya ganti kereta di stasiun Kyoto lalu naik ke Inari, atau direct.
Yang saya ingat, saya sempet kebablasan 2 stasiun sehingga harus balik lagi ..#duh

Peta Kyoto Station dari http://www.japan-guide.com/


190 x 118 (rate waktu itu)



End point station untuk menuju Fushimi Inari 

Karena masih pagi, Fushimi Inari Shrine belum terlalu crowded.
Saya masih bisa mengambil foto dengan santai, berlama - lama di depan kuil lalu naik menuju gate orange.
Strategi yang salah karena ketika saya naik, kuil sudah mulai ramai dan mencari foto sepi yang isinya gate doang jadi agak susah - baca : musti sabar -
Mencoba realistis dengan kemampuan kaki saya yang masih harus digeber penggunaannya sampai minggu depan, saya putuskan untuk tidak naik ke atas dan balik arah sesudah gate pertama.


The Famous Orange Gate
Disekitar kuil,terdapat toko - toko yang menjual suvenir dan cemilan.
Toko suvenirnya serius sehingga membuat saya betah berlama - lama untuk lihat - lihat dan pilih - pilih.
Saya yakin most of it adalah handmade atau minimal made in japan dan bukan cina.
Harganya masih mahal menurut ukuran kantong saya dan dengan perbandingan kota - kota sebelumnya.
Tapi tentu saja perbandingannya jadi tidak apple to apple karena yang saya bandingkan kebanyakan barang yang berbeda.
Kebanyakan suvernir yang saya lihat sebelumnya adalah post card dan gantungan, sementara yg ada di sekitar kuli ini tampak lebih handmade dan serius, beragam dari sapu tangan, suvenir berbentuk rubah khas fushimi inari, dompet kecil motif jepang, dlsb.

Dari area Fushimi Inari saya memutuskan kembali ke area kota dengan naik kereta ke Kyoto Station, mengambil foto di depan gedung bertower di depan stasiun Kyoto, lalu naik bus ke arah tengah kota.
Naik bus di kyoto saya lakukan dengan menggunakan daily bus pass yang dapat dibeli di stasiun ataupun diatas bis via pak supir.
Sementara berdasar info penjaga guest house, peta kyoto yang paling informatif dan handal - yang juga sudah saya uji kebenarannya adalah yang ini  .
Peta ini dapat di temukan dibanyak tempat dan gratis.
Saya sempat ambil beberapa dari guest house.
Penggunaannya memang agak ribet karena selain bahannya tipis, petanya lebaaaar, sehingga sebentar saja pasti sudah sobek. Tulisannya juga kecil dan banyak.
Saran saya, luangkan waktu untuk membaca peta ini lengkap dengan penjelasannya kiri dan kanan, pasti lebih mudah.

Secara impulsif saya putuskan untuk mengunjungi resto masakan indo Hati - Hati  yang terkenal di Kyoto itu.
Impulsif karena saya lapar dan sudah 4 hari belum makan layak pake piring, sendok, garpu serta utamanya nasi dan lauk.
Impulsif karena sejak saya mendarat di negri sushi ini saya hanya makan roti, onigiri, sushi paketan dari supermarket dan mi instan plus nasi.
Memang sih saya sudah research mengenai resto turki Rose Cafe , tapi kan beda yah makanan turki vs makanan indo.

Berbekal peta dan petunjuk dari internet, saya naik bis dan nyasar ...xixixi...
Nyasarnya sesederhana akibat salah turun sehingga harus naik bis nomor lain yang balik arah, lalu kepedean baca peta yang akhirnya muter - muter.
Tapi hari itu cerah and i dont mind at all to be lost.
Jalan keluyuran sambil keluar masuk toko, nemu dompet - dompet cantik buat oleh - oleh.
Menyusuri gang di pinggir sungai dengan pohon berdaun merah berguguran
I DONT MIND AT ALL
Omg, it such a nice day.
Sampai akhirnya saya temukan resto itu tutup saudara - saudara #aaaargh


Yang udah pegel di cari - cari = TUTUP
Ketika saya celingukan, sepasang bapak dan ibu japanese di dekat situ melihat saya.
Sehingga kemudian terjadi komunikasi dengan tingkat saling kepemahaman yg rendah - simple karena kami bicara dalam bahasa yg berbeda.
Inti yang saya dapat adalah : restonya tutup, punya anak saya - buka nya sore - wallahualam bener apa ngga yg info saya terima itu.

Baiklah, lalu saya kembali ke arah saya datang, menemukan starbuck yang dipenuhi pengunjung di perempatan pinggir sungai, dan bergabung untuk minum kopi panas sambil melihat lokal people piknik di pinggir sungai.
Ini bukan pertama kali saya lihat lokal people duduk - duduk santai di pinggir sungai macam di komik dan kartun - kartun jepang itu. Waktu di Osaka, hal yang sama juga saya lihat di dekat Osaka Castle.
Bayangin jeh klo di jakarta mau begitu.
Sementara kopi panasnya adalah hasil nego beli tumbler.
Jadi, beli tumbler kan biasanya memang gratis isi, hanya saja krn tumbernya buat oleh - oleh, ya saya minta isinya di ambil pake gelas untuk diminum ditempat.
Biasanya ga boleh - tergantung manisnya senyum saat nego.
Untungnya hari itu boleh, sehingga saya bisa duduk sebentar melepas hasil nyasar tadi.

Gagal makan enak, saya putuskan kembali ke plan awal mengunjungi Rose Cafe.
Dengan begitu, dari lokasi tersebut saya harus menuju Kawaramachi untuk naik bis menuju halte Kojin-Guchi.
Infonya Rose cafe hanya berapa langkah dari halte itu.

Sekian lama muter - muter dan bolak balik di jalan kawaramachi, saya tidak menemukan halte bis dengan nomor yang saya mau tumpangi.
Walaupun dengan jelas di peta tertulis bahwa nomor bis yang saya cari melintasi di jalan kawaramachi, tapi saya tidak menemukan halte yang menunjukan bis itu berhenti di halte tersebut.
Sesudah cape bolak balik, akhirnya saya sadar bahwa memang sejumlah nomor - nomor bis di peta itu tidak berhenti di halte yang sama dan ada penjelasannya di legend peta sebelah kiri - ada section dan kotak khusus menjelaskan soal bis di kawaramachi dori - .
Thats why pemirsa, sebagai mana saya sudah sebut diatas, demi kemaslahatan betis, luangkan lah waktu untuk menilik lebih jauh setiap peta yang anda punya. #sigh.

Seperti petunjuk, dari halte Kojin-Guchi, Rose Cafe tidak sulit di cari.
Bangunannya mungil, cantik dan bersih.
Rasanya pun tak jauh dari makanan turki yang pernah saya makan ketika saya berunjung ke sana. Yang penting halal :)

Siang itu akhirnya saya berhasil makan dengan piring, sendok dan garpu.
*demi kesopanan, tidak semua makanan yang saya makan saya foto dan upload sini*




Rose Cafe


enyak

Dengan perut kenyang - dan hati senang - saya kemudian berangkat menuju pemberhentian saya selanjutnya :  Ginkaku-Ji Temple.
Lokasinya tidak jauh dari Rose Cafe - kalo di peta cuma lurus, trus belok kanan #halah - dan bisa di tempuh dengan 1x naik bis.
1x naik bis yang diikuti dengan jalan menanjak yang lumayan.
Yap, Ginkaku-Ji Temple, atau sering di sebut juga dengan silver pavilion, memang berada didataran yg lebih tinggi dan dikelilingi oleh perbukitan. Tamannya cantik, luas dan waktu itu penuh dengan warna - warni musim gugur.


Direction to Ginkaku-Ji Temple

Mengikuti path yang ada saya menyusuri taman, berfoto norak di depan pavilion dan mengikuti kerumunan orang berjalan hingga sampai pada kaki bukit dimana semua orang naik.
Setengah perjalanan naik saya mulai kesusahan dan mulai mempertanyakan tujuan saya mengikuti orang - orang ini.
Ketika saya mengambil jeda untuk istirahat, saya persilahkan orang - orang melewati saya sambil memberi isyarat "tinggalkan lah mbak - mbak yang kepayahan karena ga pernah olah raga ini" .
Seorang bule ganteng berkimono melewati saya sambil berbasa - basi, senyum dan memberi semangat. #ambil lap keringet
Lalu saya gunakan kesempatan ngobrol sama bule ganteng itu sambil bertanya : ada apa sih diatas ? kenapa semua pada naik ?.
Bule berkomino itu lalu bilang bahwa pemandangan dari atas bagus dan sebanding dengan jerih payah ini. Ia lalu pergi mendahului saya.

Ternyata bukitnya tidak terlalu tinggi, dan pemandangannya cukup lumayan.
Saya bisa melihat taman dan perbukitan berwarna - warni.
Dalam proses saya mengambil foto, bule ganteng itu nongol lagi.
Lalu kami ngobrol sebentar, dan saya mengambil kesempatan itu untuk bertanya dari masa asalnya.
- sebenernya sih mau tanya, kenapa mas pake kimono ? lokal people yah ? ga dingin apa ? -
Ternyata doi berasal dari luar kota - lupa namanya - dan mengajar bahasa inggris di sana.
Tak lama doi kemudian pamit dan pergi bersama temannya, 2 perempuan jepang berkimono.

Tidak lama di sana, saya kemudian turun dan mengambil jalan keluar.
Waktu itu hari sudah mulai sore dan suhu dingin mulai menggigit.
Sesuai rencana, saya menyusuri the famous philosopher path yang ternyata biasa saja.
Hanya jalan kecil di pinggir sungai kecil dengan perumahan di kiri kanannya.
Mungkin biasa saja karena saat itu mulai gelap dan daun - dan pohon disekitarnya sudah gugur.
Mungkin saat musim semi akan lebih bagus.
Saya sempatkan mampir ke beberapa toko di dekat path itu.
Mayoritasnya adalah kerajinan tangan handmade.


Philosopher Path
Karena sudah gelap dan dingin menggigit, saya putuskan untuk tidak mampir ke Eikando Temple dan langsung ke Gion.
Dengan 1x perjalanan dengan bis menuju Gion, saya kembali ke daerah kota yang penuh dengan lampu, toko dan toko.
Tidak jauh dari halte tempat saya turun, saya bertemu dengan rombongan anak muda yang saya tebak juga mau ke area Gion.
Ternyata mereka adalah anak muda lokal yang sedang menemani teman tamu mereka beberapa orang bule.
Mereka dengan ramah menerima saya, menjawab pertanyaan saya mengenai lokasi paling pas untuk melihat geisha dan - karena searah - mengantarkan saya ke tempat yang dimaksud.
Kami akhirya berpisah di tikungan yang dimaksud.

Menyusuri jalan dengan petunjuk yang diberikan, saya berada disebuah jalan dengan restoran mahal dikiri kanan nya.
Saking santainya, saya malah tidak sigap kamera dan cuma bengong saat melihat seorang geisha melintasi saya dengan terburu - buru, keluar dari satu rumah dan langsung masuk ke rumah lain.
Yah, paling ga udah pernah liat lah...
Malam itu saya habiskan dengan keluyuran di area Gion.

Senin, 31 Maret 2014

Japan Trip - D5 - Osaka dan Kyoto


Hari kelima adalah hari terakhir saya di Osaka untuk selanjutnya pindah kota ke Kyoto.
Plan saya hari itu, sekitar tengah hari sudah harus dalam perjalanan ke Kyoto.
Harus siang karena masih harus cari alamat hostel di Kyoto.
Dan nyari alamat malam hari itu jelas beda effortnya dengan saat matahari masih menemani.

Kalau dilihat dari jadwal yang sudah dibuat, beberapa tempat di Osaka yang sudah saya agendakan namun terlewati adalah Shitennoji Temple, Tsutenkaku Tower dan Umeda Sky Building.
Sementara jadwal pagi itu adalah Osaka Castle dengan garden dan taman disekelilingnya.

Saya putuskan unguk memprioritaskan Osaka Castle dan Tsutenkaku Tower.
Osaka Castle karena memang hanya ada di Osaka dan Tsutenkaku Tower karena mengingatkan saya akan film - film Ksatria Baja Hitam jaman kecil dulu -kalo ga salah itu tower suka muncul di adegan bagian mosnter mau ngacak - ngacak kota -
Sementara bangunan tinggi macam Umeda Sky Building saya kalahkan karena masih bisa saya temui di Tokyo dan temple semacam Shitennoji Temple - walaupun tentu saja tidak sama - akan banyak saya temui di Kyoto.

Pagi itu saya harus sedikit sigap dan berangkat pagi karena hari itu adalah sabtu dan pasti lebih ramai.
Sesudah menitipkan tas di loby hotel, saya cek out dan berangkat ke Osaka Castle.
Hari itu adalah hari terakhir saya pakai Kansai Pass saya untuk ke Kyoto.
Sepertinya cukup efektif dan efisien karena sudah dipakai 3 hari bolak balik Nara, Kobe, Himeji, Osaka hingga Kyoto sore nanti.
Sesuai info disini, saya turun di stasiun Tanimachi 4-Chrome untuk masuk via Otemon Gate.
Dalam perjalanan dari stasiun ke castle, saya lewati beberapa kantor lembaga pemerintahan dan taman - taman dengan beberapa orang yang sedang olah raga pagi - enaknya tinggal disini -


Sarapan yang di beli di Lawson dan di makan di taman dekat Osaka Castle :
Segini mah ga nendang buat saya :(

Melewati Sakuramon Gate yang terkenal dengan Octopus Stone nya itu, saya masuk ke area Osaka Castle.
Seperti predikasi, hari itu ramai sekali.
Sampai susah dapat foto yang "enak dilihat" alias ga ada orang berseliweran.
Ramai di taman sekitar castle, di dalam castle, hingga di Osaka-Jo Hall dan lapangan sekitarnya.
Hari itu memang ada acara di sekitar Osaka-Jo Hall.
Tampak penuh oleh anak - anak dalam group - group marching band dan didampingi keluarga mereka.
Disekitar pun ada booth - booth makanan yang menjual jajanan yang ga berani saya lirik -takut kepengen padahal mungkin ga halal-

Osaka Castle
Osaka City View dilihat dari Osaka Castle
 
Sesudah mengunjungi castle, saya berjalan keluar sambil menikmati suasana
Keluar via Aoya-mon Gate, melewati jalan disebelah Osaka-jo Hall, dan terus keluar dengan harapan berujung di stasiun Osaka-jo Koen. - sesuai kata peta -
Melewati jembatan sungai saya melihat beberapa keluarga dan anak muda yang piknik dipinggir sungai,
Persis seperti yang suka ada di film kartun.
Ferry yang melintas, burung - burung di sekitar sungai dan hijau merah daun pepohonan membuat pemandangan sekitar sungai cantik sekali.
Kalau saja tidak panas dan tidak diburu waktu, mungkin saya akan bergabung leyeh - leyeh di sana.
Pada kenyataannya saya tidak berujung di stasiun Osaka-jo Koen.
Beberapa persimpangan membuat saya bingung dan bolak balik ga jelas.
Sampai akhirnya menemukan orang yang bisa membantu dan menunjukan arah.
Saya lupa akhirnya berujung distasiun apa.
Yang saya ingat, saat itu sudah tengah hari dan saya nekat tetep mau ke Tsutenkaku Tower.

Target Tsutenkaku Tower saya selesaikan dalam waktu tidak lama.
Dari stasiun Ebisucho, melewati pertokoan dengan paduan tower itu sendiri.
Lalu shock melihat antrian masuknya.

Antrian masuk hari itu

Saya sempat antri sebentar, lalu ragu karena sepertinya akan sangat terlambat menuju Kyoto.
Foto disekitar tower juga entah kenapa hasilnya selalu backlight.
Sedikit kecewa, saya pun putuskan untuk kembali ke hotel dan segera ke Kyoto.

Perlu diketahui bahwa selama tiga hari saya di Osaka dengan bolak balik stasiun namba, tiap hari pula saya pulang dengan keluar dari exit gate stasiun yang berbeda.
Kayaknya susah sekali nemu exit gate yang kemarin.
Ujung - ujungnya setiap pulang saya selalu muter - muter.
Sore itu adalah yang paling parah.
Mungkin juga di pengaruhi faktor grogi karena sudah buru - buru.
Kekiri dan kekanan semua toko tampak sama.
Ujung - ujungnya balik lagi ke titik yang sama
Seperti yang sudah saya infokan sebelumnya, stasiun namba juga dilengkapi dengan pertokoan dan menempel dengan Mall.
Mall nya besar, kumplit dan barang - barangnya lucu - lucu. belum lagi ga jauh dari situ ada Takashimaya - ya walaupun pasti ga ada yg di beli disitu -, trus jalan dikit ada pertokoan area namba..
Kalau boleh mah bisa lah 1 hari cuma buat keluar masuk toko
Distasiun ini saya nemu beberapa barang dan figuran Peanuts, serta dasi cantik buat papa.
Ga berani beli banyak - banyak karena perjalanan masih jauh

Sesudah menganbil titipan koper di hotel saya balik lagi ke stasiun Namba
- Kalo dipikir - pikir kenapa ga cari loker di stasiun aja ya ...hiks -
Sekali lagi saya mampir ke Tourist Information di stasiun namba untuk mengecek rute ke Kyoto.
Ternyata untuk sampai ke stasiun terdekat dengan hostel saya, dengan kansai Pass yang saya punya - alias ga mau keluar uang lagi - harus ditempuh dengan cukup ribet yaitu bebrapa kali ( lupa apakah 1 atau 2 kali ) transit dan ganti kereta. - ga papa lah ya yang penting murah -

Dengan perjalanan yang aman dan tentram, sekitar jam 8 malam saya mendarat di Kyoto.
Perjalanan dari stasiun Nijojo-Mae tempat saya turun sampai ke hostel lumayan...kayaknya lebih dr 750m.
Melewati Nijo Castle yang tampak lebih kecil dari yang saya bayangkan
At least lebih kecil dari Osaka Castle
Alhamdulillahnya, petunjuk hostel sangat jelas sehingga tidak perlu nyasar apalagi muter - muter.

Selama di Kyoto,saya menginap di Hanari Guest House Kyoto.
Lokasinya memang agak jauh dari stasiun kereta, namun dekat dari halte bis.
Dengan asumsi saya akan banyak naik bis, maka saya pilih menginap disini selama saya di Kyoto.
Guest House ini terdiri atas 2 lantai.
Resepsionis, ruang tv, dapur, kamar mandi, toilet, wastafel dan mesin cuci ada di lantai satu.
Sementara kamar - kamar - atau lebih tepatnya mungkin bilik karena ukurannya yang kecil sekali - serta toilet ada di lantai 2.
Utamanya adalah guest house ini punya female dormitory.
Kamar yang saya tempati ukurannyanya jepang sekali...alias kecil, dengan dua kasur tingkat di kiri dan kanan.
Fasilitas kamarnya lengkap. Semuanya ada diarea pribadi alias diatas kasur, mencakup power, lampu,ear bud, tirai hingga selimut.
Sayangnya dinding kamarnya juga tipis sekali sehingga apapun sampai ke kamar sebelah.
Celakanya saya pack beberapa barang saya dengan plastik...berisik sekali jadinya.
#padahal sudah pernah baca packing guide yang melarang pakai plastik karena berisik :D

Setiap penghuni kamar di beri 1 kunci dan harus mengunci kamar setiap pergi, ada atau tidak penghuni lain di dalam kamar.
Sarapan sederhana berupa roti dan pelengkapnya disediakan oleh guest house.
Selain itu, minum - minuman ringan seperti jus, soda, dan lain - lain juga bisa diambil sepuasnya dari kulkas.

Jalan menuju Hanari Guest House

Hanari Guest House


Selasa, 25 Maret 2014

Japan Trip - D4 - Osaka Bay Area


Dari Nara saya langsung kembali ke Osaka untuk mengujungi tempat – tempat yang sudah saya agendakan.
Realistis terhadap waktu, Umeda Sky Building harus saya coret dari daftar siang itu.
Semoga masih bisa di reschedule besok.

Dalam kereta menuju ke Osaka, saya satu gerbong dengan group anak sekolah, mungkin sekitar kelas 2 atau 3 SD. Walaupun kecil, semua tertib dan teratur.
Sebelum masuk gerbong diberi pengarahan dulu oleh sang guru, masuk gerbong tidak berebut, dan di dalam gerbong tidak ribut.
Karena melihat saya yg "tampak" berbeda, beberapa menghampiri saya dan mencoba berkomunikasi dengan bahasa inggris. Terpatah - patah, ga nyambung, tapi lucu ngeliat mereka colek - colekan supaya ada yg berani ngomomg ke saya.
Bahasa inggris tampaknya menjadi salah satu fokus dalam field trip anak sekolah di jepang. Di  Todaiji Temple tadi, saya lihat anak" sekolah mendekati turis asing - bule maksudnya - untuk diwawancara. - Sempet kepikir, kok saya ga di ajak wawancara yaaaa -

Siang itu saya fokuskan pada Osaka Bay Area, yaitu Universal Studio City, Osaka Aquarium (Kaiyukan), Tempozan Ferris Wheel, dan Naniwa Food Theme Park.
Dilihat di peta, Osaka Aquarium (Kaiyukan), Tempozan Ferris Wheel, dan Naniwa Food Theme Park berada pada lokasi yang sama, sementara Universal Studio City ada di seberangnya, harusnya ga jauh – jauh amat (kata peta lho ya).
Teddy Bear Besaaaaar di depan sebuah cafe dekat Osaka Aquarium. Menggoda minta diajak pulang

Dari stasiun Osakako, petunjuk menuju Osaka Aquarium (Kaiyukan) sudah sangat jelas.
Jelas tidak berarti dekat ya...jalannya lumayan.
Karena saya mau lihat Tempozan Ferris Wheel pada malam hari saya putuskan untuk ke Universal Studio City dahulu.
Tidak untuk masuk sih, Cuma mau foto banci didepan landmarknya, cari suvenir peanuts, dan oleh – oleh kaos hardrock buat papa (kalo ga mahal – mahal amat).
Suvenir Peanuts mudah dicari dijepang. Kemarin sudah nemu beberapa di mall stasiun Namba. Harapan nemu nya jadi lebih besar karena di Universal Studio ini ada juga theme Snoopy.
Dari Osaka Aquarium sebenarnya ada boat menuju Universal Studio, namanya Captain Line.
Infonya bisa ditemukan disini ataupun disini .
Harganya dengan rate saat itu maksimal pp adalah 150rb.
Siang itu sebetulnya pas sekali klo saya mau naik Captain Line.
Kapal yang mau berangkat sudah di depan mata.
Tapi karena saya pelit dan pernah baca soal service boat penyebrangan yang gratis dari Tempozan ke Sakurajima disini, saya putuskan untuk cari service gratis itu.
Ternyata mencari port penyebrangan yang menyediakan service gratis itu tidak mudah.
Setelah bertanya di informasi area Osaka Aquarium, saya dikasih petunjuk arah melewati Ferris Wheel, menyusuri taman lalu .... ga ngerti lagi
Baiklah, Ferris Wheel - lalu taman yang ternyata cantik dengan daun merah berguguran - lalu dermaga bau pesing tempat orang mancing.
Masih persistent, saya lewati orang - orang mancing itu - lalu mentok. #halah
Saya coba bertanya ke salah satu kakek yang lagi mancing, ternyata dermaganya dekat situ, tapi musti keluar dulu memutar taman. 
Balik arah melalui pintu saya masuk tadi, lalu...ga bisa diungkapkan dengan kata - kata tapi saya ngerti lah maksud petunjuknya....lumayan jaraknya.
Akhirnya saya nemu bangunan dengan dermaga.
Penampakannya seperti ini :

Tempozan Ferry

Kalau dilihat dari tempat dan tampaknya, kayaknya betul
Disitu ada ruang tunggu, jadwal, dll
Yang bikin ragu adalah disitu ga ada orang dan yang paling penting : Kapal

Masih persistent, saya tunggu beberapa lama.
Lalu muncullah kapal dari arah seberang....horeeee !!!
Setelah semua orang turun, petugas turun, pintu dermaga di kunci ...lalu hening  #Hahah...piye
Saya tanya ke petugasnya, mereka cuma oke dan tunggu
Ooo kayaknya belum jadwalnya
Tapi yang bikin saya bingung,,,kok mereka naik ke kantor atas...jangan - jangan mau bobo sore.

Gak berapa lama penumpang lain mulai berdatangan, dan petugas mulai bersiap - siap.
Baiklah, ini Jepang, dimana semua terjadwal dan teratur.
Saat saya menyebrang, matahari mulai tenggelam...
Alamat kemaleman lagi ini mah

Sunset saat menyebrang
Nyari dermaganya ternyata lebih lama dari nyebrangnya yang cuma 5 - 10 menit.
Masalahnya ternyata tidak berhenti disitu.
Dermaga Sakurajima yang kalo dipeta cuma beberapa milimeter dari Universal Studio, ternyata jauuuuuuuuuuh.
Entah apa karena saya salah ambil jalan atau memang jauh.
Pada kenyataanya, langit sudah gelap saat saya sampai di Universal Studio.

Foto banci, cari suvenir dan mampir hardrock cafe kemudian selesai dalam waktu tak lama.
Suvenirnya sedikit mengecewakan karena barang"nya mayoritas buatan c***.
Sementara suvenir hardrocknya juga mengecewakan karena mahal.
Jadilah saya tidak berlama - lama karena harus mengejar jam tutup Osaka Aquarium.
Kapok dengan proses menyebrang sebelumnya, saya putuskan untuk kembali ke Osaka Aquarium dengan Captain Line, yang dermaganya sangat dekat dari Universal Studio.

Captain Line : Crew nya perempuan semua

Sekitar jam 7 malam saya masuk ke Osaka Aquarium Kaiyukan.
Demikian sehingga saya termasuk yang terburu - buru karena aquarium itu tutup jam 8 (info).
Aquariumnya besar dan luas....
Penghuninya di kelompokan berdasar habitat. Contohnya Aleutian Islands, Ecuador Rainforest, Seto Inland Sea, Monterey Bay, Gulf of Panama, Antartica, Japan Deeps, dan lain sebagainya.
Walaupun waktu saya mepet, saya sempat berlama - lama melihat tingkah polah pinguin yang lucu, bermacam ubur - ubur yang cantik - cantik, serta membayangkan ikan - ikan dan udang - udang besar itu diatas piring #slurups
Sempat sedih terbersit bahwa mereka seharusnya ada di laut lepas.

Menatap tajam seolah bertanya : kenapa aku disini ?

Klo yang ini lagi bolak - balik show off ke pengunjung : Santai dulu kakaaaaaaak

Angin malam yang dingin menciutkan nyali saya untuk naik Tempozan Ferris Wheel
lagian tampak sudah terlalu malam, saya putuskan kembali ke hotel.

Sabtu, 22 Maret 2014

Japan Trip - D4 - Nara

Hari keempat, semangat, tenaga dan perlengkapan perang saya masih full...
Sebisa mungkin saya siapkan kondisi fisik mendukung.

Kendala saya soal stamina ini adalah urusan makanan.
Simply karena cari makan halal susah.
Hasil research infonya semua ramen itu kaldunya dari daging babi. - olala -
Saya putuskan hindari semua makanan berkuah.
Gorengan juga bahaya karena bisa saja minyaknya dari binatang yang sama.
Ujung - ujungnya sushi, onigiri, kebab dan lainnya yang ramah buat muslim.

Makan pagi sejauh ini dengan kopi atau air jahe...plus roti dari jakarta...masih enak dimakan dan belum berjamur ..hehe
Siang hari dalam perjalanan, saya selalu berusaha nemu yg bisa dimakan dari supermarket...bisa paket sushi...atau minimalnya onigiri tuna.
Sementara di tas selalu ada fitbar dan roti kalau mendadak laper...atau susah nemu makanan.

Makan malam hari pertama beli takoyaki di area dotonburi...malam kedua beli nasi instan di 7-11 yg dipanaskan di microwave...lalu di bawa pulang untuk dimakan dengan pop mi.
Setiap malam pasti bikin jahe hangat dan tolak angin...

Jaga kesehatan juga saya lakukan dengan minum yg banyak. 
Untuk minum, saya selalu beli air kemasan 2 liter dan jus jeruk 500ml seharga 100an yen. 
Pun selalu ada air mineral kecil dan jus jeruk 500ml. 
Di jepang, harga air 2L dan jus jeruk karton lebih murah dari air 500ml.... mungkin karena faktor botol plastik.

Gak lupa juga tolak angin, imboost dan vitamin c. *maap nyebut merek

Teman saya sudah jauh" hari bilang klo japan trip means walking trip....
Karena jalan nya extra dan extra... miles and miles *lebay
Mencegah kaki merana..kaki selalu saya rendam air panas dan oles krim ajaib setiap sebelum tidur.
Kayak mau perang yah...
Tapi siapa mau ambil resiko sakit saat solo travel, pada suhu yang tidak biasa buat manusia tropis.
Bukan suhu, tapi kondisi cape dan susah cari makan halal lah kendala terbesar saya...secara saya gembul dan jarang olahraga.

Hari ke tiga ini jadwal saya explore Nara dan Osaka.
Pagi pagi saya sudah naik kereta ke nara.
Todaiji Temple, dan Nara umumnya terkenal dengan rusa jinak yang berkeliaran dan suka ngejar" turis yang bawa makanan.

Dari stasiun ke Todaiji Temple sangatlah mudah.
Walaupun jalannya lagi" lumayan, tapi petunjuk arahnya jelas dan peta - peta area bertebaran di pinggir jalan.
Kalau masih bingung juga, ikutin aja turis" yang berkeliaran....mayoritas pasti ke arah sana.
melewati gedung - gedung pemerintahan dan taman kota, suasana autumn terasa sekali.
daun - daun merah berjatuhan, udara sejuk, tapi matahari masih bersinar cerah.

Mendekat ke temple saya nemu anak laki" yg dikejar" rusa karena bawa sekantong makanan rusa yang memang di jual di sekitar temple.
Hari itu Todaiji Temple nya ramai, baik itu oleh pengunjung turis, kunjungan anak sekolah, maupun keluarga dengan anak" kecil.
Sebelum masuk gate temple, pengunjung akan melewati area taman dengan rusa berkeliaran dan toko - toko suvenir.
Taman itu juga dilengkapi dengan dengan kolam dan pepohonan yang bentuknya jepang banget.



Dihari ketiga ini saya sudah ga norak liat pohon berdaun kuning dan merah.
Tapi karena pohon dan taman si temple ini sejauh ini adalah yang paling cantik...jadilah saya sempatkan foto foto di taman itu.
Antara taman dan temple dibatasi dengan gate masuk yang bentuknya seragam dengan temple.
Digate masuk itulah kita beli tiket. 1 tiket dan satu brosur berbahasa jepang di berikan ke pengunjung saat masuk.
" no english ?" tanya saya
si bapak penjaga menjawab dengan bahasa yang saya tidak mengerti
dibalikin aja brosurnya gimana ? #ga ngerti juga #akhirnya brosurnya dimasukin tas ajah

Nggak ngerti :(
Todaiji Temple

Patung dalam Todaiji Temple : Mirip ekspresi emak dan baba gw klo gw lagi ijin mau main :)

Puas keliling dan foto - foto, saya memutuskan untuk meninggalkan temple dan mencari Kofukuji Temple.
Kofukuji  Temple terkenal dengan 5 level pagoda nya dan berada tidak jauh dr stasiun.
Karena mau hemat energi, saya putuskan untuk naik bis dari halte dekat Todaiji temple ke stasiun.
Ternyata klo naik bis, jarak yang tadi saya tempuh dengan jalan kaki terasa dekat sekali.
Baru aja duduk, eh udah nyampe.....klo ga salah cuma ngelewatin 2 halte.
Dari stasiun, saya lihat peta arah menuju Kofukuji  Temple.
Olala, ternyata musti balik arah 1 halte.
Klo kaya gini namanya buang" uang buat naik bis....

Kofukuji Temple
Kofukuji Temple saat itu sedang di renovasi, sehingga saya putuskan untuk tidak masuk.
Sementara, foto - foto diluar juga tidak terlalu menarik karena siang itu mulai mendung.
Tak lama di sana, saya berjalan kembali ke arah stasiun untuk mencari Rifrekan – second-hand shop.

Info mengenai Rifrekan – second-hand shop, tidak sengaja saya dapat ketika sedang browsing mengenai Nara.
Toko ini, jual barang bekas dan baru.
Barang bekas disini termasuk perhiasan hingga kimono.
Saya sempat lihat perhiasan yang di jual di sana, yang walaupun bekas - harganya masih ampun - ampun buat dompet saya.
Cantik memang, beda sama design perhiasan di indonesia.
Kimono bekasnya juga masih bagus dan yang pasti terjangkau harganya.
Disini saya nemu 1 Obi baru yang lucu cuma dengan harga 1000yen.

Tidak mau pengalaman kemaleman di Kobe terulang, sekitar tengah hari saya kembali ke Osaka untuk target selanjutnya.

Selasa, 04 Februari 2014

My First Photo Contest


Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai Persiapan ke Jepang , sempat saya singgung mengenai free wifi dari link Visit Japan.
Dari link yang sama, saya dapat info mengenai photo dan video contest saat kunjungan ke Jepang.
Berangkat dari modal iseng, saya submit beberapa photo saya...
and guess ??
Saat diumumkan awal tahun 2014 kemarin .....

I WON !!!!!




ini foto saya yang terpilih memenangkan hadiah kedua
- nyesek memang ada di posisi kedua sementara hadiah posisi pertama adalah tiket pesawat Jakarta - Jepang PP -



Foto ini saya ambil dengan kamera Panasonic FZ-50 saat special night opening di Kiyomizu-dera Temple.
Walaupun hadiahnya "hanya" Tiket Universial Studio Osaka lengkap dengan penginapan - dengan batas waktu tertentu yang tentu saja tidak bisa di jual dan tidak mungkin saya pakai karena urusan cuti - saya cukup happy bahwa saya menang.

Cukup untuk justifikasi bahwa saya kemudian "boleh" beli kamera yang lebih powerfull.
- yang pada kenyataannya emang udah suka sebel karena udah suka mentok sama kemampuan kamera prosumer itu -

Jadi, beli SLR kita ?

Senin, 09 Desember 2013

Japan Trip - D3 - Himeji & Kobe


Pagi itu saya sarapan dengan roti yang saya bawa dari Jakarta
Hotel Kikuei menyediakan requested sarapan yang di book ketika check in.
Saya memilih untuk tidak pesan karena takut tidak atau penyiapannya tercampur dengan yang tidak halal.

Hari ini jadwal saya Himeji dan Kobe.
Di stasiun saya sempatkan mampir ke Tourist Information Center (TIC), untuk croscek info yang sudah saya punya.
Yang saya suka dari TIC stasiun Namba adalah mereka "siap perang"
Ketika kita bilang mau kemana, mereka selalu keluarkan dokumen penjelasan atau peta terkait.
Dengan begitu, penjelasan lebih mudah daripada cuma bla bla bla kiri kanan ga jelas.
Saya bahkan dikasih peta stasiun Namba.
Yap, stasiunnya memang besar sekali dengan sekian banyak gate in dan out sehingga kemungkinan muter - muter ga jelas sangat besar.

Ini hari pertama saya menggunakan Kansai Pass Tru.
Kenapa pakai 3 day Kansai Pass seharga 500Rb-an dan bukannya 7 day JR Pass Tru seharga 2,8-juta an ?
Well, pertama karena itinerary saya ga meliput banyak kota - sementara JR Pass, sejauh info yang saya baca cocok untuk yang tingkat
Bolak balik antar kota atau perjalanan jarak jauhnya tinggi.
Karena kebanyakan saya mondar - mandir hanya di area Kansai (Osaka - Kobe - Himeji - Nara - Kyoto) dan perjalanan jarak jauh nya
hanya Kyoto - Hakone dan Hakone - Tokyo, maka saya pikir saya tidak perlu JR Pass.

Pertimbangan lainnya sbb :
1. Tidak praktis karena terikat dengan JR
Kalau mau hemat, penggunaan JR harus efektif dan efisien.
Itu artinya selama 7 hari harus terikat dengan JR dan hanya JR.
Padahal belum tentu stasiun terdekat di TKP adalah stasiun JR.
Untuk stasiun besar memang biasanya jadi 1 gedung, tapi antar gatenya jauh-jauh
Sementara stasiun kecilnya biasanya berbeda antara JR dengan perusahaan lain.

2. Jumlah uang yang dikeluarkan.
Kalau saya beli JR Pass, tetap ada kemungkinan saya harus mengeluarkan uang lagi saat menggunakan kereta lain dan bis.
contohnya di Kyoto, praktisnya naik Bis, maka di sarankan beli 1 day pass yang per harinya 500 Yen

Jadi sebenernya, menurut saya berapa pun yang kita keluarkan untuk Pass yang kita pilih, tetap akan ada extra charge untuk hal" yang tak terduga dalam hal ini pilihan transportasi lain yang lebih menarik saat di TKP.

Demikian sehingga saya pilih Kansai Pass.
Pertimbangannya tentu beda" untuk tiap itinerary.
Yang jelas, bagaimana pun Pass tetap harus di pertimbangkan karena bisa lebih hemat (apalagi klo pake resiko nyasar) dan praktis (ga ngantri).

Hari itu cerah dan tidak terlalu dingin
Perjalanan ke Himeji aman dan tentram
Dari stasiun menuju himeji castle pun petunjuknya jelas.
Himeji Castle memang sedang direnovasi, tapi mengingat nama besarnya...saya putuskan untuk tetap pergi ke sana.

Castlenya megah dan besar.
Masih bisa di bayangkan gambarannya saat masih jadi castle dulu
Disini saya bertemu dengan rombongan anak sekolah yang antri dengan rapi.
Yang menarik, seragamnya sama persis seperti di komik - komik jepang

sekitar jam 2 siang saya meluncur ke Kobe.
Target saya di Kobe sebetulnya banyak.
Mulai dari Mesjid Kobe, Botanical Garden, China Town, hingga area Kobe Port.
Sayangnya karena siang itu waktunya ga cukup, saya putuskan mencoret Mesjid Kobe dan Botanical Garden.
Yang lainnya harusnya masih bisa direalisasikan karena 1 arah.

Ternyata saya sampai di Kobe saat hari mulai gelap.
Sebenernya, klo dilihat di peta, untuk ke Meriken Park (area pelabuhan) lebih deket ditempuh dari Stasiun Motomachi.
Tapi karena sore itu serba ragu, saya akhirnya turun di stasiun Sannomiya.
Saya kemudian sempatkan mampir ke Kobe Information Center yang tidak jauh dari stasiun, untuk konfirmasi dan minta petunjuk arah. 
Lalu jalan...dan jalan...mengikuti petunjuk, bahkan sempat tanya beberapa kali ke orang - orang yang saya temui di jalan.
Pede saya akan arah dan petunjuk berkurang karena hari mulai gelap, sehingga sesering mungkin bertanya menurut saya lebih baik dari pada kejauhan muter kalau nyasar. 
Ternyata jarak stasiun ke area port lumayan jauh
China Town yang 1 arah terpaksa harus saya skip dan cuma foto gerbangnya aja
langsung lanjut ke Kobe Port Tower.
Well, niatnya emang ke area port saat malem supaya lampu"nya yang keren itu keliatan
Tapi ga kemaleman kaya gini sampe semua harus di skip - hiks
Saya sampai di Kobe Port Tower sekitar pukul 17.30 waktu setempat.
Tapi langit sudah gelap sekali dan dinginnya melebihi hari sebelumnya saat saya di Osaka
Kemungkinan besar karena saya di dekat laut.

Hari itu ternyata ulang tahun Kobe Port Tower.
Tiketnya di diskon hingga 150 Yen.
Saya naik ke atas dan menikmati pemandangan area port Kobe.
Di atas, ada toko suvenir yang menjual beberapa barang yang lucu.
Sayangnya saat itu saya pikir harganya cukup mahal, dan memutuskan untuk cari toko suvenir lagi di area sekitar.
Ternyata pun tidak ada, dan mau balik ke atas lagi...yang diatas udah tutup.
Belum rejeki tampaknya.
Tapi yang harus di perhatikan adalah jam tutup Kobe Port Tower.
Klo ga salah saat itu sekitar jam 7. tapi area tower sudah sepi.


Kobe Tower

Selesai di area tower, saya lanjut ke area taman disekitar situ.
Masih ramai karena sedang ada acara.
Tak jauh dari situ pun ada pertunjukan air mancur musikal dengan warna warni yang cantik.
Tidak lama di sana karena takut kemalaman, saya lanjutkan dengan kembali ke Osaka.

Sesampainya di hotel, ternyata eConnect saya sudah sampai
Padahal katanya 2 hari, tapi ternyata 1 hari sudah sampai
Bahagianya mbah Google datang.
Malam itu sebelum tidur saya sempatkan email ke eConnect untuk say thank you dan konfirmasi penerimaan barang.
Gaya ih bisa email"an dari kasur instead of loby hotel :D

E-Connect nya sudah sampai :)


Jumat, 06 Desember 2013

Japan Trip - D1 - D2 - In Flight, Rinku Factory Outlet & Namba Area


Setelah hampir enam bulan kepala saya mikir solo travel ke jepang, hari H itu akhirnya datang.
Hari itu saya ke kantor dengan koper, melarikan diri jam 2 siang karena takut kejebak macet,
dan berangkat dengan mulus.
Walaupun connecting flight, tampaknya jadwalnya sedikit mepet karena saya harus lari" saat transit.
Dan benar saja, flight ke Osaka saat itu sudah final call.



Selfi Pertama ...masih belajar dan belum ahli

Esok paginya saya mendarat di Bandara Haneda - Osaka.
setelah imigrasi, toilet dan beberes...agenda utama saya adalah mencari Tourist Information Center (TIC) dan Post Office (PO).
Tourist information center adalah tempat wajib mampir di setiap hop perjalanan, apalagi baru landing.
Kalaupun ga ada kepentingan, paling nggak bisa cari brosur, peta atau bahkan info diskon.
Pagi itu saya perlu ke TIC karena harus beli Kansai Pass Tru untuk 3 hari transportasi saya di area kansai. 
Sementara saya perlu ke PO untuk beli eConnect, sim card untuk internetan yang menurut saya harganya reasonable.
Walaupun travel solo, paling ga saya "ditemani" mbah google. 

Urusan di TIC aman dan lancar.
Saya sempat duduk dan ngobrol sama mbak - mbak dari negara tetangga melayu yang travel bersama orang tuanya. 
Jadi ingat waktu nge-backpack ke Thailand bareng Mama dan Papa. 
Lucunya si mbak memuji bahasa inggris saya yang katanya jauh lebih bagus dari orang indonesia lain yang dia kenal. 
Hmmm...maksudnya TKI gitu ya ?

Sementara urusan di PO gagal total.
Waktu saya ke PO dan bilang mau beli eConnect , mereka tanya apakah saya punya nomor registrasi. 
Dan waktu saya bilang ga punya, mereka ga bisa kasih itu eConnect.
Waktu itu masih belum "dong" apa masalahnya.
Mau connect buka webnya eConnect  juga ga bisa krn ga nemu wifi yang layak.
Ngebayangin traveling tanpa internet kok ya agak repot.

Setelah sekian lama saya akhirnya berhasil konek dengan WiFi bandara.
Lalu chat dengan teman yg berencana juga ke Jepang dan sepertinya sudah membaca detail web nya eConnect
Ternyata sim card nya harus dibeli via online dan diminta untuk dikirim ke suatu tempat.
Bisa Hotel atau Post Office.
Baru ngeh itulah mengapa si mbak di PO menanyakan nomor register.
Mungkin nomor resi atau pengiriman. 
Well, salah saya ga baca secara detail.
Sekian lama membuang waktu soal sim card ini, dengan putus asa akhirnya saya putuskan untuk pergi
Dalam perjalanan menuju keluar, saya melewati beberapa provider yang menawarkan koneksi internet untuk turist.
Namun harganya jauh lebih mahal dari eConnect.  
Di Jepang, telepon genggam dan nomornya memang hanya untuk residen yang punya alamat tetap.
Sementara untuk turis, pilihannya hanya sim card internet, hand set khusus internet atau modem WiFi.

Sekitar jam 10, saya beranjak dari bandara menuju Rinku Premium Outlet
Letaknya di Rinku Town yang ga terlalu jauh dari Haneda. 
Kayaknya ga mungkin belanja karena beberapa testimonial yang saya baca di internet bilang kalo harganya mahita. 
Tapi apa salahnya mampir..pengen liat outlet mahal. 
Kebetulan juga hari itu ada winter sale. 
Ada dua cara menuju Rinku Premium Outlet, yaitu via bis dan kereta. 
Via Kereta memang lebih cepat,tapi lebih mahal.
Sementara via bis waktu itu cuma 100 Yen
Saya pun memilih via bis. Detailnya disini.

Rinku Premium Outlet


Sesampainya disana, saya masukan tas ke loker yang harganya lumayan - kalo ga salah 50rb deh.
Lalu muter - muter. 
Barangnya lucu - lucu.....baju musim dingin yang tampaknya merk lokal juga bagus dan lucu. 
Harganya memang masih lumayan, tapi dalam kisaran wajar apalagi lagi sale. 
Cuma masih kurang "lucu" untuk traveler yang bawa uangnya terbatas plus masih hari pertama alias belum kemana - mana. 
Saat itu dengan justifikasi "cuma bawa jaket tipis sementara cuaca lebih dingin dari perkiraan", saya putuskan beli 1 sweater GAP seharga 400rb-an. 

Sekitar jam 3 (atau 4 ?) saya meninggalkan Outlet menuju Namba dengan kereta. 
Stasiun kereta tidak jauh dari Rinku Premium Outlet dan bisa ditempuh dengan jalan kaki via pertokoan.
Karena hari itu hanya satu kali naik kereta, saya putuskan untuk tidak menggunakan Kansai Pass Tru.
Saat itulah pertama kali kenalan dengan mesin penjual tiket yang katanya hobi makan banyak sekali uang para traveller.
A bit nervous awalnya, tapi lalu baik - baik saja karena sudah banyak baca infonya di internet.
Untungnya pula stasiunnya sepi sehingga ga banyak yg harus ngantri nungguin saya.

Dikereta saya duduk sebelahan sama mbak japanese yang mau mudik ke kyoto untuk menghadiri pernikahan kakak laki - lakinya.
Dengan bahasa inggris yang sepatah - sepatah bahkan dengan bantuan translator ponsel,
kami memulai komunikasi sederhana.
Sesederhana itu saya bisa merasakan keramahan orang - orang Jepang.
Saya bahkan di beri sepotong kue mochi yang seyogyanya dibawa untuk oleh - oleh keluarganya.
Untungnya saya bisa tukar dengan pembatas buku jogja yang memang saya siapkan untuk saat - saat seperti ini.


Saya sampai di Namba saat langit mulai memerah.
Keluar dari stasiun bukan hal mudah karena tidak ada petunjuk exit terdekat dengan hotel. 
Sesudahnya, mencari hotel seperti teka teki selanjutnya yang harus saya pecahkan. 
Sempat berputar - putar, saya ditolong seoang bapak -tampak seperti traveler- yang membantu mencari hotel saya dengan GPS.
Tuh kan, internet itu ngebantu banget deh.

Hotel Kikuei - seperti review - review yang saya sudah baca di internet - berada dalam kondisi "cukup".
Lokasinya cukup dekat dari stasiun Namba, tapi petanya sedikit sulit dibaca (atau faktor kebodohan saya ?)
Kamarnya kecil tapi cukup. 
Internetnya lancar dan cepat, tapi cuma bisa diakses dari area lobby.
Semua fasilitas dalam kamar oke.
Front desk nya ramah.
What else do you need then ?
Tidak mewah, tapi sesuai kebutuhan. 



Kacanya ga sampe muka


Kamar mandinya bersih, walau kecil dan bathtub nya ukuran anak - anak

Setelah tarik nafas dan beberes, saya lanjutkan malam itu dengan keluyuran di area Namba.
Menyusuri Dotonburi, foto di depan Glico Running Man, makan Takoyaki, mampir ke toko Little Osaka, dan yang lainnya sampai hampir jam 10 malam.
Namba area malam hari memang ramai. Apalagi di area turis dekat icon pertokoan namba yg terkenal dengan tampilan toko yg penuh figurin besar. Malam itu dingin, tapi saya nyaman.
Lebih nyaman lagi ketika saya merasa aman, tidak ada yg mengamati saya, atau melihat dengan aneh mbak - mbak jilbaban yg keluyuran sendirian ini.
Toko - toko di area namba sungguh menggoda. klo ga kepikir bahwa perjalanan masih panjang, pasti koper udah di penuh"in sama belanjaan.
Hebatnya malam itu saya ga beli apa - apa.
Semua di kalahkan dengan pemikiran : koper berat - di tokyo juga nanti ada - harusnya di tokyo lebih murah...dlsb

ini enyaaaaaaaak

Sebelum tidur saya sempatkan email ke eConnect dan cerita mengenai kebodohan saya serta apakah ada cara lain saya bisa dapatkan sim card mereka
Ternyata oh ternyata mereka bisa kirim ke hotel tapi perlu 2 hari pengiriman.
Saya konfirmasi, order, payment dan wallaaaaa....ternyata semudah itu.

Hari itu capeknya maksimal.

Senin, 11 November 2013

Japan Trip : Preparation

Periode Mei - November saya gunakan sebaik - baiknya untuk persiapan.
Mulai dari bikin time plan what to-do, ngumpulin softcopy travel guide book dan browsing kiri kanan atas bawah untuk bikin itinerary dan yang paling penting : nabung.

Time Plan 
Time plan disini adalah time plan preparation.
Kapan saya harus mulai "jaga" nominal tabungan untuk aproval visa
Kapan musti aply visa
Kapan musti monitor rate yen
Apa aja yang musti di bawa - sedetail"nya sampai berapa bekal roti dan pop mi yang musti di bawa, baju apa saja, matchinginnya gimana, syalnya berapa, warna apa aja, jaketnya, kapan bisa nyuci,dll
Kapan musti packing - tentu saja erat kaitannya dengan segala keribetan saya klo packing
dan lain sebagainya

Saya putuskan untuk aply visa di awal oktober.
Artinya nominal tabungan sudah harus di jaga sejak bulan juli (3 bulan sebelum)
Walaupun beberapa teman bilang nominal tabungan saya sudah cukup untuk pengajuan,
Tetep aja waktu itu saya sempet khawatir dan pinjem punya orang tua untuk diendapin,lalu di kembalikan segera setelah visa approved.
Sayang banget kan klo gagal karena urusan visa...lalu hangus tiketnya  #duuuuh

Dokumen perjalanan pun saya siapkan sedetail"nya
Selain membuat hard copy nya untuk disisipkan disemua tas yg saya bawa, soft copy nya pun saya simpan di hp, tablet dan email.
Tidak hanya itu, seluruh dokumen lain seperti peta hotel, peta tujuan wisata, gambar tujuan wisata, dlsb nya pun saya simpan di hp, tablet dan email.  

Hotel
Booking hotel saya lakukan via layanan booking online, serta email langsung ke hotel tersebut.
Komparasi antara layanan booking online dan kontak langsung hotel baik itu via web/email perlu dilakukan karena tidak jarang ada perbedaan harga atau availability.
Pemilihan hotel saya kaitkan dengan transportasi. Karena mobilitas di Osaka banyak naik kereta, maka saya pilih hotel dekat stasiun, sementara karena di Kyoto mobilitas lebih banyak via bis (dengan bis day pass), maka saya pilih hotel yang dekat dengan bus stop.

Urusan hotel adalah yang nomor satu saya dahulukan, mengingat periode perjalanan saya termasuk peak
season.
"Ujian" pertama datang saat suatu sore di akhir bulan september, dimana saya di email oleh layanan booking online yang menginformasikan bahwa hotel yang sudah saya booking di Osaka bangkrut.
Sedihnya saya harus kehilangan beberapa dolar booking fee, dan harus cari hotel lagi untuk di Osaka

Ittinerary
Untuk ittinerary, selain screening travel guide book dan berbagai sumber share perjalanan lain, panduan yang sangat lengkap bisa didapat dari Japan Guide , Osaka City , dan situs resmi jepang lain.
Waktu itu bahkan sempat apply free wifi via Visit Japan.
Karena ini solo travel pertama buat saya, maka saya putuskan tidak terlalu ambisius dalam hal mobilitas antar kota.
Target saya hanya target" yang common untuk turis, dalam hal ini Osaka, Kobe, Nara, Himeji, Kyoto, Hakone dan Tokyo, dengan base di 4 kota yaitu Osaka, Kyoto, Hakone dan Tokyo (kota lain di laju dalam 1 hari ).  
Berikut itinerary saya selama 12 hari :



detail dan ambisius sekali ya sodara - sodara...