Tampilkan postingan dengan label Butterfly. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Butterfly. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 Januari 2015
Jakarta oh Jakarta : Part 1
Tulisan ini sebenarnya mengenai transportasi di ibukota yang rumit ini.
Saya merasa harus menulis ini karena banyak sekali cerita mengenai transportasi di jakarta.
Yap, kondisinya kadang memang a bit nightmare...
Pada kasus - kasus tertentu, semua pilihan transportasi - apapun itu yang anda pilih - bisa jadi salah.
Salah disini artinya berujung ga nyaman, ga sehat buat raga, atau bahkan jiwa.
catet ya ...jiwa !!!
Walaupun saya lahir dan besar di jakarta, masalah pertransportasian ini baru terasa sejak saya kerja di Jakarta.
Mungkin karena waktu sekolah, jaraknya ga jauh - jauh amat.....sehingga hubungan saya dengan pertransportasian masih bisa dibilang harmonis.
Pertama kali saya kerja yaitu di daerah Gatot Subroto, jalur Depok - Gatot Subroto saya tempuh dengan omprengan dari Depok - SCBD, dan parkiran Univ. Atmajaya dekat halte benhil - Depok.
Omprengan buat saya artinya meringkuk selama 1,5 jam di mobil penuh yang berjalan dengan sigap.
Sigap nyelip kiri kanan bahkan bahu jalan.
Murni karena sang supir tahu penumpangnya mau cepet - cepet sampe rumah.
Tapi belum tentu jadi nyaman karena goyangan saat bersigap ria dan kehandalan sopir ganti kopling dan ngerem sangat berpengaruh. #huft
Tidak lama berlangsung rutinitas itu, saya memutuskan untuk nge kost di benhil.
Karena saya ga mau masa muda saya - halah - habis di jalan.
Dengan begitu urusan pertansportisasian jadi sesederhana bis - copet - ojek #copet ? ...iya, baca deh disini
Karena urusan kuliah, saya kemudian harus kembali ke rumah.
Hubungan saat itu mulai runyam karena saya harus terbirit - birit mengoperasikan roda empat sampai stasiun kereta terdekat, parkir dengan sigap - yang sering gagal - dan semangat 45 ngejar kereta ke kota.
atau bahkan bangun jam 4 pagi untuk cusss ke kantor dengan roda empat jika itu adalah hari kuliah.
Hubungan tambah runyam ketika jumat jam 10 malam usai kuliah saya masih ketemu macets.
Putus sambung sering terjadi antara saya dan roda empat itu.
Seringnya karena nabrak atau di tabrak - banyakan nabraknya sih -
Sampai akhirnya saya akhiri hingga saat ini.
Mungkin besok saya akan memulai hubungan yang lebih harmonis dengan roda empat lain, dalam kondisi yang lebih baik.
Tapi untuk saat ini, saya cukup puas dengan transportasi umum.
"cukup" disini dalam arti yang sebenar - benarnya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Saat ini urusan pertansportisasian saya sangat berwarna.
Diwarnai oleh ojek, bajaj, metromini, comuterline, taksi, hingga jalan kaki - kalau itu bisa dihitung dalam kategori pertransportasian.
#Ojek
Handal jika dan hanya jika ketemu pengemudi yang handal. #dibaca : tergantung rejeki.
Saya punya ojek langganan ke kantor yang saya bisa telepon kalau saya perlu.
Seringnya saya panggil jika commuterline gangguan.
Dengan si bapak ini, saya ga perlu risau waspada kiri kanan karena si bapak aman, cepat dan handal. Bahkan ketika selap - selip. Semua tindakannya teruji di perhitungkan dengan cermat.
Saya bisa hanya duduk, pasang earphone dan nyanyi - nyanyi sepanjang jalan.
Atau mengobrol ngalor ngidul sama si bapak sambil browsing.
Lain halnya kalau ketemu ojek yang nyeleneh.
Macam ojek di sta. sudirman yang gondrong sebahu. Demikian sehingga kalau kecepatan motor naik sedikit, rambutnya yang kusut itu melambai lambai di depan muka saya.
Duh, semoga ga ada mikro organisme yang pindah antar dua media itu.
Toh saya ga bisa memilih ojek lain karena ojek - ojek di stasiun itu berderet berdasar antrian dan saya tidak cukup tega merusak mekanisme itu hanya karena urusan rambut - atau mikro organisme.
Di area kantor, ada ojek yang dikenal dengan sebutan : ojek setan.
Si ojek ini suka nya ngebut ga kira - kira. Walau termasuk dalam kategori ngebut dengan perhitungan, tidak semua orang atau kondisi dapat diaplikasikan metode ojek setan ini.
Saya pun masih waspada tingkat tinggi kalau numpang ojek ini.
Walaupun kadang cukup senang karena sampai tujuan dengan cepat.
Suatu saat menuju kampus untuk kuliah, si mas ini ngebut seperti biasa nya.
Me : Mas, ga usah ngebut - ngebut, saya ga buru - buru kok
Si mas ojek tidak menjawab, tapi menurunkan kecepatannya dengan sangat ekstrim, mirip semacam odong - odong full load balita.
Me : Mas, ya ga gini amat....kalau gini mah ntar gw telat
Mas Ojek : Tuh kan mbak, ikut cara saya aja .... #lalu ngebut lagi
Saya mingkem males ribut.
Iya, males ribut.....
Karena sebenernya banyak teman kantor saya yang memang sudah gerah dengan ojek setan itu
Malah ada yang sampai komentar : "Mas, bawa orang apa kambing ? Saya ini bayar lho !!"
Kalo ketemu sama ojek yang ga tau jalan urusannya malah bakal lebih runyam.
Maunya cepet malah jadi lama.
Tapi sejauh ini yang paling bikin saya mingkem cuma bapak ojek di terminal blok M
Ceritanya sore itu saya kekeuh mau ke gancit demi mengejar sale merk sepatu idaman.
naik busway sampai terminal Blok M, saya jalan sampai ujung terminal.
di dekat jembatan penyebrangan depan Mall Blok M, saya menemukan pangkalan ojek.
Bapak itu umurnya mungkin sekitar 50an, dengan perut agak buncit, beliau duduk di pangkalan itu sambil menghisap rokok dengan cangklong.
Me : Ojek pak ? anterin ke gancit dong pak...berapa ?
Si Bapak : yuk......20 neng
Me : Aaaaah biasa 15, udah 15 berangkat...
Si Bapak kemudian mematikan rokok dan siap", pake helm ... saya naik, lalu kami berangkat.
Sepintas saya lihat ada help penumpang di gantung di badan motor, tapi saya pikir dikasih nya nanti pas menjelang berangkat.
ketika sudah jalan ga di kasih juga, saya memutuskan untuk bertanya :
Me : Pak, saya ga di kasih helm ?
Si Bapak : Lha, kan udah pake kerudung
Me : #hah ? kan kerudungnya ga tahan aspal pak
Si Bapak : Ya udah, berdoa aja ...
dan itu helm tetep ga di kasih ke saya....
Dalam perjalanan si Bapak ini memang sigap potong kiri kanan dan memanfaatkan celah.
Hingga sampai nerobos lampu merah
Me : Lho Pak, itu merah lho tadi ?
Si Bapak : Aaaah, polisinya libur
Me : He ?
Sampai akhirnya berhenti di gancit, saya turun sambil komentar
Me : SIM nya bikin di kelurahan ya pak ?
Si Bapak menjawab sesuatu yang saya tidak perhatikan.
Cape ah mending kabur ajah :)
Senin, 07 Juli 2014
Tentang Solo Travel
Seperti sudah diceritakan sebelumnya, trip ke jepang adalah pertama kalinya saya solo travel.
Solo travel ini mungkin bukan big thing buat orang lain, tapi jelas big thing buat saya karena ada di "must to do" list.
Beneran ga sih saya bisa solo travel macam traveler" yg nulis buku itu ?
Solo travel ini mungkin bukan big thing buat orang lain, tapi jelas big thing buat saya karena ada di "must to do" list.
Beneran ga sih saya bisa solo travel macam traveler" yg nulis buku itu ?
Macam bloger traveler yg udah kemana mana itu ?
Kalo urusan nyali, insyaAllah saya punya
Tapi menurut saya solo travel is much more than nyali.
Banyak hal seperti persiapan yang matang, fokus, self control hingga luck.- yes..luck - yang menurut saya punya peran yg sama besar dengan nyali.
Kalo urusan nyali, insyaAllah saya punya
Tapi menurut saya solo travel is much more than nyali.
Banyak hal seperti persiapan yang matang, fokus, self control hingga luck.- yes..luck - yang menurut saya punya peran yg sama besar dengan nyali.
Berdasar perjalanan solo travel saya yg pertama kali itu,
berikut saya tuliskan beberapa hal yg menurut saya penting bagi solo
traveler, terutama female.
Tidak bermaksud mengurui, atau berperan seperti ahli macam female solo traveler kondang - yang saya baca blog nya berkali kali sebagai riset sebelum saya pergi - namun sebagai catatan buat saya dan dummies yg lain.
Tidak bermaksud mengurui, atau berperan seperti ahli macam female solo traveler kondang - yang saya baca blog nya berkali kali sebagai riset sebelum saya pergi - namun sebagai catatan buat saya dan dummies yg lain.
1. Be prepared...
Any information will help.
Tiap orang memang punya gaya traveling yang beda - beda, ada yg ga suka
persiapan detail, ada yg bikin persiapan garis besarnya saja, ada yang
ribet detail macam saya, dll.
Tapi kalo mau traveling dengan aman, efektif dan efisien, u better prepare everything in detail
Tapi kalo mau traveling dengan aman, efektif dan efisien, u better prepare everything in detail
Faktor X memang pasti ada, tapi bisa diminimalisasi dengan persiapan semaksimal mungkin.
Persiapan pasti juga pengaruh ke mental.
contoh :
Di jepang, informasi exit number yang tepat sesuai tujuan di setiap stasiun, sangat penting dalam mengemat waktu dan tenaga, soalnya stasiunnya itu guede - guede dan antar exit atau bahkan antar line aja ada yang sampe 500m.
Di Jepang, saya pernah desperate setengah mati karena kemaleman di stasiun sepi yang dingin.
Fatal memang karena saya tidak cari tahu jam operasional daerah itu, yang notabene karena daerah pegunungan - walaupun area turis - jam 10 malem sudah sepi sunyi senyap.
Saat ini semua sudah bisa dicari di internet...jadi manfaatkan internet dengan sangat saat bikin itinerary.
Apakah perjalanan nya akan ditemani mbah google atau tidak, saya lebih suka prepare for the worst alias tanpa mbah google - maksudnya minim koneksi internet kecuali wifi gratisan -
Artinya, semua informasi yang sekiranya akan diperlukan, sudah saya siapkan dalam gadget saya.
Mulai dari info rute dan rute alternatif, peta, harga tiket masuk, jam operasional tempat yang akan di kunjungi, simple languange alias kamus turis, dokumen flight, tiket, booking hotel, sampai capture gambar tempat yang akan dikunjungi.
Kenapa sampai capture gambar ? Well, kalau bertanya dalam bahasa yang sama - sama ga ngerti, akan lebih mudah nunjukin gambar...
Semua saya simpan digadget dengan backup di USB dan email.
Semua dokumen perjalanan dan rundown itinearry itu juga saya email ke orang terdekat atau keluarga, supaya kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan, mereka punya cukup data untuk melacak saya.
Jangan remehkan juga pentingnya check in disuatu lokasi dengan social media. Bukan semata untuk pamer ada dimana, tapi agar orang lain bisa melacak lokasi anda, in case kemudian terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dokumen yang harus diprint saya siapkan dalam kantong plastik kiloan sebelum disimpan di tas.
Hal yang sama juga saya lakukan terhadap uang kertas dalam dompet, passport, dan dokumen pribadi lain.
Tujuannya supaya dokumen itu tidak basah dan rusak jika tas saya terpaksa basah atau kehujanan.
Selain diplastiki, dokumen - dokumen itu juga dipisah dan dilabeli per kota yang akan dikunjungi.
Misalnya dokumen Osaka, Nara, Kobe, Himeji, Kyoto dan Tokyo.
Tujuannya supaya praktis dalam mencari dan membawa.
Nah satu bundel dokumen pribadi mencakup copy passport, copy visa, itinerary, alamat hotel sepanjang perjalanan, alamat dan no telp rumah saya sisipkan di setiap tas yang saya bawa.
Harapannya, kalau tas saya keselip dibagasi, hilang, dlsb, yang berwenang dapat menemukan informasi - informasi tersebut sehingga bisa membantu mengembalikan tas saya ke lokasi dimana saya berada.
2. Jaga stamina
Artinya makan, tidur dan istirahat cukup.
Pada kenyataannya memang susah, karena 3 hal tersebut termasuk yang susah didapat klo lagi traveling.
Urusan makan harus direncanakan dengan matang karena ujung - ujungnya stamina.
Kadang orang berasumsi makan susah saat traveling itu kaitannya cuma sama uang alias penghematan. Padahal belum tentu seperti itu.
Bisa saja karena makanannya susah di dapat, tidak sesuai lidah, itinerary yang padat, dlsb
Kalau mau masuk museum yang tiket masuknya mahal sehingga harus lama supaya ga rugi atau disekitarnya ga ada resto, ya mending bawa bekal.
Lebih ribet lagi urusannya kalau berkunjung ke negara yg makanan halalnya susah.
Antisipasi hal" tersebut dan siapkan solving problemnya.
Tujuannya tentu supaya having fun nya maksimal.
Masalahnya solo travel itu ya solo....sendirian gitu kan ?
3. Fokus
Perhatikan lingkungan sekitar...
Orang" disekeliling, gesturenya, sikapnya, dlsb
Fokus, self awareness dan safety itu erat sekali kaitannya...
Jangan ceroboh, jangan melanggar aturan, jangan memberi celah sedikitpun atas hal" yang bisa menimbulkan masalah...
Hal sepele yg saya rasakan terasa sekali antara solo dan non solo adalah klo travel solo di jalan ga bisa tidur...takut kelewat dari pemberhentian yang dituju, takut bahaya mengundang, dlsb
Kesannya kok berat banget ya...well, ngga juga sih...fun trip is a safe trip isn't ?
4. Be Simple
Soal pakaian dan penampilan yang tidak mencolok serta sesuai dengan nilai - nilai
lokal sudah menjadi standar umum para traveler.
Saya lebih suka semua dalam format seaman dan senyaman mungkin.
Begitupun dengan bawaan.
Walaupun saya tipe ribet yang berharap punya kantong doraemon karena semua mau di bawa
Tapi paling tidak saya tahu apa saja yang saya bawa, dan letaknya di dalam tas saya
(serta disiplin untuk meletakan kembali ditempat yang sama setelah pemakaian)
Jadi klo perlu ga ribet ngebongkar seluruh tas kalau mau ngambil sesuatu.
Usahakan hanya membawa 1 tas sebesar apapun itu.
Usahakan tidak membawa apapun selain 1 tas itu sehingga ga ribet.
(this means HP, dompet, peta, dll semua masuk tas)
Penting dan praktis supaya tidak ada barang tercecer dan tertinggal, apalagi klo lagi buru"
Aman karena pengawasan tidak terpecah sehingga lebih fokus.
Dengan demikian, semoga ga ada cerita barang tercecer di bis, HP ketinggalan di pengecekan barang di bandara, dlsb.
Dalam berbagai bentuk dan macam traveling, baik itu solo, backpack bersama keluarga - dan papa saya kapok traveling bareng saya -, berdua, bertiga, berempat, berlima dan berenam bersama teman hingga bergerombol puluhan orang...sejauh ini saya paling nyaman solo alias pergi sendiri.
Nyaman karena semua kita putuskan sendiri.
Mau penuh target, mau nyasar, mau leyeh - leyeh, mau apa saja kita tentukan sendiri
dijamin ga pake berantem dan ngotot - ngototan soal jadwal atapun arah peta.
Palingan mengutuk diri sendiri karena ini dan itu...hehe...
Di Jepang, saya pernah desperate setengah mati karena kemaleman di stasiun sepi yang dingin.
Fatal memang karena saya tidak cari tahu jam operasional daerah itu, yang notabene karena daerah pegunungan - walaupun area turis - jam 10 malem sudah sepi sunyi senyap.
Saat ini semua sudah bisa dicari di internet...jadi manfaatkan internet dengan sangat saat bikin itinerary.
Apakah perjalanan nya akan ditemani mbah google atau tidak, saya lebih suka prepare for the worst alias tanpa mbah google - maksudnya minim koneksi internet kecuali wifi gratisan -
Artinya, semua informasi yang sekiranya akan diperlukan, sudah saya siapkan dalam gadget saya.
Mulai dari info rute dan rute alternatif, peta, harga tiket masuk, jam operasional tempat yang akan di kunjungi, simple languange alias kamus turis, dokumen flight, tiket, booking hotel, sampai capture gambar tempat yang akan dikunjungi.
Kenapa sampai capture gambar ? Well, kalau bertanya dalam bahasa yang sama - sama ga ngerti, akan lebih mudah nunjukin gambar...
Semua saya simpan digadget dengan backup di USB dan email.
Semua dokumen perjalanan dan rundown itinearry itu juga saya email ke orang terdekat atau keluarga, supaya kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan, mereka punya cukup data untuk melacak saya.
Jangan remehkan juga pentingnya check in disuatu lokasi dengan social media. Bukan semata untuk pamer ada dimana, tapi agar orang lain bisa melacak lokasi anda, in case kemudian terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dokumen yang harus diprint saya siapkan dalam kantong plastik kiloan sebelum disimpan di tas.
Hal yang sama juga saya lakukan terhadap uang kertas dalam dompet, passport, dan dokumen pribadi lain.
Tujuannya supaya dokumen itu tidak basah dan rusak jika tas saya terpaksa basah atau kehujanan.
Selain diplastiki, dokumen - dokumen itu juga dipisah dan dilabeli per kota yang akan dikunjungi.
Misalnya dokumen Osaka, Nara, Kobe, Himeji, Kyoto dan Tokyo.
Tujuannya supaya praktis dalam mencari dan membawa.
Nah satu bundel dokumen pribadi mencakup copy passport, copy visa, itinerary, alamat hotel sepanjang perjalanan, alamat dan no telp rumah saya sisipkan di setiap tas yang saya bawa.
Harapannya, kalau tas saya keselip dibagasi, hilang, dlsb, yang berwenang dapat menemukan informasi - informasi tersebut sehingga bisa membantu mengembalikan tas saya ke lokasi dimana saya berada.
2. Jaga stamina
Artinya makan, tidur dan istirahat cukup.
Pada kenyataannya memang susah, karena 3 hal tersebut termasuk yang susah didapat klo lagi traveling.
Urusan makan harus direncanakan dengan matang karena ujung - ujungnya stamina.
Kadang orang berasumsi makan susah saat traveling itu kaitannya cuma sama uang alias penghematan. Padahal belum tentu seperti itu.
Bisa saja karena makanannya susah di dapat, tidak sesuai lidah, itinerary yang padat, dlsb
Kalau mau masuk museum yang tiket masuknya mahal sehingga harus lama supaya ga rugi atau disekitarnya ga ada resto, ya mending bawa bekal.
Lebih ribet lagi urusannya kalau berkunjung ke negara yg makanan halalnya susah.
Antisipasi hal" tersebut dan siapkan solving problemnya.
Tujuannya tentu supaya having fun nya maksimal.
Masalahnya solo travel itu ya solo....sendirian gitu kan ?
3. Fokus
Perhatikan lingkungan sekitar...
Orang" disekeliling, gesturenya, sikapnya, dlsb
Fokus, self awareness dan safety itu erat sekali kaitannya...
Jangan ceroboh, jangan melanggar aturan, jangan memberi celah sedikitpun atas hal" yang bisa menimbulkan masalah...
Hal sepele yg saya rasakan terasa sekali antara solo dan non solo adalah klo travel solo di jalan ga bisa tidur...takut kelewat dari pemberhentian yang dituju, takut bahaya mengundang, dlsb
Kesannya kok berat banget ya...well, ngga juga sih...fun trip is a safe trip isn't ?
4. Be Simple
Soal pakaian dan penampilan yang tidak mencolok serta sesuai dengan nilai - nilai
lokal sudah menjadi standar umum para traveler.
Saya lebih suka semua dalam format seaman dan senyaman mungkin.
Begitupun dengan bawaan.
Walaupun saya tipe ribet yang berharap punya kantong doraemon karena semua mau di bawa
Tapi paling tidak saya tahu apa saja yang saya bawa, dan letaknya di dalam tas saya
(serta disiplin untuk meletakan kembali ditempat yang sama setelah pemakaian)
Jadi klo perlu ga ribet ngebongkar seluruh tas kalau mau ngambil sesuatu.
Usahakan hanya membawa 1 tas sebesar apapun itu.
Usahakan tidak membawa apapun selain 1 tas itu sehingga ga ribet.
(this means HP, dompet, peta, dll semua masuk tas)
Penting dan praktis supaya tidak ada barang tercecer dan tertinggal, apalagi klo lagi buru"
Aman karena pengawasan tidak terpecah sehingga lebih fokus.
Dengan demikian, semoga ga ada cerita barang tercecer di bis, HP ketinggalan di pengecekan barang di bandara, dlsb.
Dalam berbagai bentuk dan macam traveling, baik itu solo, backpack bersama keluarga - dan papa saya kapok traveling bareng saya -, berdua, bertiga, berempat, berlima dan berenam bersama teman hingga bergerombol puluhan orang...sejauh ini saya paling nyaman solo alias pergi sendiri.
Nyaman karena semua kita putuskan sendiri.
Mau penuh target, mau nyasar, mau leyeh - leyeh, mau apa saja kita tentukan sendiri
dijamin ga pake berantem dan ngotot - ngototan soal jadwal atapun arah peta.
Palingan mengutuk diri sendiri karena ini dan itu...hehe...
Selasa, 04 Februari 2014
My First Photo Contest
Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai Persiapan ke Jepang , sempat saya singgung mengenai free wifi dari link Visit Japan.
Dari link yang sama, saya dapat info mengenai photo dan video contest saat kunjungan ke Jepang.
Berangkat dari modal iseng, saya submit beberapa photo saya...
and guess ??
Saat diumumkan awal tahun 2014 kemarin .....
I WON !!!!!
ini foto saya yang terpilih memenangkan hadiah kedua
- nyesek memang ada di posisi kedua sementara hadiah posisi pertama adalah tiket pesawat Jakarta - Jepang PP -
Foto ini saya ambil dengan kamera Panasonic FZ-50 saat special night opening di Kiyomizu-dera Temple.
Walaupun hadiahnya "hanya" Tiket Universial Studio Osaka lengkap dengan penginapan - dengan batas waktu tertentu yang tentu saja tidak bisa di jual dan tidak mungkin saya pakai karena urusan cuti - saya cukup happy bahwa saya menang.
Cukup untuk justifikasi bahwa saya kemudian "boleh" beli kamera yang lebih powerfull.
- yang pada kenyataannya emang udah suka sebel karena udah suka mentok sama kemampuan kamera prosumer itu -
Jadi, beli SLR kita ?
Rabu, 25 Desember 2013
2013 dan 2014
so new year is almost there
and 2013 is soon become a past
2013 is not an easy year for me
truly not an easy year
seperti kata agnes dalam lagu nya Matahariku :
Ucapkan matahariku puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu menaklukan waktu
Berjuta warna pelangi di dalam hati
Sejenak luluh bergening menjauh pergi
Takada lagi cahaya suci
Semua nada beranjak aku terdiam sepi
Sejenak luluh bergening menjauh pergi
Takada lagi cahaya suci
Semua nada beranjak aku terdiam sepi
benar" sendiri jasmani rohani lahir batin
beraaaat rasanya
tapi harus belajar - supaya bisa mandiri - tidak bergantung - dan tidak berharap pada orang lain
as my friend said :
lo lahir sendiri
lo mati juga sendiri
kenapa lo takut hidup sendiri berdiri di atas kaki sendiri ?
bukan artinya saya menjauhkan semua orang
saya toh tetap manusia yang katanya mahluk sosial
tapi belajar dari sakitnya berharap ....
saya pun belajar preparing for the worst case - dalam hal ini, tidak bergantung - dan tidak berharap pada orang lain.
soal 2014, segala perbaikan tentu jadi target
terutama hubungan dengan Sang Pencipta
sungguh saya banyak lalai :(
Pencapaian tahun 2013 pun tidak cukup banyak
saya lebih fokus menata hati...walaupun banyak gagalnya
tapi target solo travel dan sertifikasi dasar Alhamdulillah sudah
perjalanan turki dan jepang pun pengalaman yang luar biasa
yang masih gagal ? belajar sabar
sementara untuk 2014, plan nya InsyaAllah
1. Belajar fotografi serius abis ...suka ga puas klo main ke t4 cakep tp ga bawa kamera cakep
2. rinjani mei 2014
3. kalau kondisi rate rupiah oke, mungkin cubes ke korea
4. klo ga oke ? kita ke flores dan sail komodo aja
5. to be continue...
semua selalu bisa berubah ...kan ?
Selasa, 23 Juli 2013
Dalam Suasana Hati Seperti Puisi
Pada Suatu Pagi Hari
*Sapardi Djoko Damono
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
Ketika Berhenti Disini
*Sapardi Djoko Damono
ada yang telah musnah.
beberapa patah kata yang segera dijemput angin, begitu diucapkan.
dan tak sampai ke siapapun...
Sabtu, 20 Juli 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
